Table Talk: Kenapa Menikah?

Kembali menulis blog setelah sekian lama vakum, dan kini tengah menikmati peran sebagai seorang istri, membuat saya ingin membicarakan tentang pernikahan sebagai tulisan perdana di come-back yang tidak epic ini. Ya, mungkin karena itu salah satu topik yang relatable dengan kehidupan saya saat ini.

Menikah dan pernikahan berasal dari kata nikah yang menurut KBBI berarti ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaean agama. Mari kita telisik arti menikah dalam Bahasa Inggris yang saya dapat dari kamus Merriam Webster. Inilah yang saya temukan ketika saya mengetik marriage dalam kolom pencarian:
1.      the state of being united as spouses in a consensual and contractual relationship recognized by law
2.      an act of marrying or the rite by which the married status is  effected especially the wedding ceremony and attendant festivities or formalities
3.      an intimate or close union
Pada dasarnya, secara harfiah, menikah atau pernikahan adalah sebuah keadaan dimana kita ada dalam sebuah ikatan resmi secara hukum dan agama dengan pasangan kita, disertai dengan kesadaran atau kesepakatan oleh masing-masing pihak. Akan tetapi, ada banyak sekali konsep dalam mendefinisikan pernikahan yang dilihat dari berbagai sudut pandang, misalnya antropologi, ekonomi, agama, budaya, dll. Kali ini kita tidak akan membahas pernikahan dari segala sudut pandang di atas, melainkan membahas beberapa pinch of thoughts yang ada di pikiran saya selama belum genap setahun menikah.

Bagi saya pernikahan adalah satu dari beberapa keputusan besar yang saya buat dalam hidup. Meresmikan hubungan dengan orang yang saya cintai secara hukum negara dan agama, dengan resiko akan sehidup semati menerima baik buruknya, tentu bukan sesuatu yang berlandaskan haha hihi, keinginan belaka, atau paksaan dari pihak-pihak lain. Setelah hubungan pacaran berjalan sekitar empat tahun dan melalui pertimbangan A-Z serta sodoran ratusan pertanyaan “kapan menikah?’ barulah saya mantap melangkah ke jenjang yang lebih serius (dan rumit) once in a lifetime. Fyi, pertanyaan-pertanyaan itu sama sekali tidak masuk dalam konsiderasi sebelum keputusan itu saya ambil, because who cares? Bagi saya menikah adalah masalah kesiapan dan kematangan dalam menjalani hidup yang obviously more complex and problematic. Jadi, yang tahu kapan kita sudah cukup siap dan matang adalah diri kita sendiri, bukan keluarga, tetangga, handaitaulan, apalagi cuma strangers. Kebanyakan dari mereka menilai layak tidaknya seseorang untuk menikah hanya berdasarkan superficial features, seperti usia yang dianggap sudah dewasa, sudah adanya pekerjaan yang tetap, menghindari zina, dan yang paling fatal adalah menjadikan orang lain sebagai pembanding yang biasanya dikemas dalam “Si A, teman sekolah kamu sudah nikah. Si B, teman kuliahmu, sudah punya anak. Kamu kapan?”. That’s not the thing, people, that’s not the thing. Keputusan menikah membutuhkan komunikasi, tidak hanya dengan pasangan, tapi juga diri kita sendiri. Butuh waktu untuk berkontemplasi sebelum akhirnya we say “I do” di hadapan tuhan, pasangan, dan para undangan, kan?

Lalu apa saja konsiderasi yang saya ambil sebelum memutuskan menikah? Pertama, saya pastikan saya sudah berdamai dengan diri saya sendiri dan masa lalu saya. Mengapa itu penting? Kita bisa saja melalui masa-masa sulit di masa lalu misalnya pernah menjadi korban bullying teman sekolah, pernah menjadi korban orang tua yang abusive, pernah mengalami trauma dengan kondisi tertentu, atau pernah terlibat dalam suatu toxic relationship. Itu hanya beberapa dari sekian banyak masalah yang mungkin pernah kita lewati di masa lalu yang jika belum ‘selesai’ akan sangat berpengaruh pada pola pikir kita di masa depan. Dalam kasus ini, saya pernah ada dalam fase yang umum dikenal sebagai quarter life crisis, meskipun terjadinya lebih awal daripada orang lain pada umumnya. Saya pernah ada di titik dimana saya merasa tidak percaya diri dengan kemampuan saya, apatis dengan lingkungan sekitar, dan menyalahkan keadaan saat saya sedih because things didn’t happen the way I expected. Tidak hanya itu, pernah menjalin beberapa toxic relationship or even friendship juga membuat saya jatuh bangun membangun lagi kepercayaan pada orang lain.  Ingin ‘sembuh’ dan berdamai dengan hal-hal di atas secara alami membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Butuh proses untuk saya menerima dan memaafkan apa yang telah terjadi di masa lalu. To accept and to forgive adalah tanda bahwa kita sudah lepas dari belenggu beban masa lalu. Tidak terbayang apa jadinya ketika saya memutuskan untuk menikah tapi belum ‘selesai’ dengan diri sendiri. Saya tak lebih hanya akan menjadi pasangan toxic yang punya mental problems yang juga akan menghasilkan hubungan yang tak kalah toxic. ‘Sembuh’-nya kita dari masa lalu adalah tonggak dalam mengelola emosi dan membuka mindset yang sehat dalam membangun rumah tangga,

Kedua, pertimbangan saya berkaitan dengan masalah kesehatan fisik. Sadar bahwa salah satu tujuan menikah adalah memperoleh keturunan, meskipun itu bukan satu-satunya tujuan, mempertimbangkan masalah kesehatan adalah hal yang harus dilakukan. Di usia saya yang menginjak 26 tahun, dan tentunya sudah melalui serangkaian Medical Check Up, saya merasa bahwa secara medis saya siap untuk menikah dan melakukan hubungan seksual tanpa harus ‘beresiko’ untuk suami dan calon anak kelak. Tidak hanya kesehatan reproduksi, kesehatan secara umum juga menjadi alasan saya untuk melangkah menjadi seorang istri karena saya masih bisa melakukan serentetan kewajiban rumah tangga yang membutuhkan fisik yang sehat.

Ketiga, aspek yang berhubungan dengan kemandirian. Kemandirian di sini mencakup beberapa ranah yaitu mandiri secara mental, mandiri secara emosi, dan mandiri secara finansial. Mandiri secara mental dan emosional adalah tentang menjadi tangguh dan bermental baja dalam menghadapi ups and downs kehidupan. Tidak terlalu bergantung pada orang lain, bahkan pasangan. Mandiri secara finansial adalah bisa menghidupi diri sendiri (at least memenuhi kebutuhan pokok) dan menghsailkan uang dari kerja keras sendiri tanpa meminta asupan dana dari pasangan. Suami memang wajib memberi nafkah pada istri, namun jangan terlalu tergiur dengan konsep tersebut. Menikah memang tentang dua orang, tapi what if the worst thing happens? Misalnya, tulang punggung keluarga kehilangan pekerjaan, bisnis bankrupt, perpisahan, perceraian, dan bahkan kematian. Siapa yang bisa menjamin sebuah rumah tangga akan lancar-lancar saja perekonomiannya? Siapa yang menjamin pernikahan akan langgeng sampai maut memisahkan? Lalu kalau sudah dipisahkan oleh maut kepada siapa lagi kita bergantung? Ini lah yang saya maksud dengan pentingnya menjadi seseorang (khususnya wanita) yang mentally, emotionally, and financially independent. Kita tidak pernah berdoa untuk terjadinya hal buruk, but nothing’s wrong with planning, right? Always plan for the worst. Menjadi mandiri secara finansial juga sangat menguntungkan perekonomian keluarga. Suami dan istri bisa saling membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengcover dana tak terduga, mempersiapkan tabungan masa depan, dan berinvestasi. Kita dan pasangan akan lebih bisa saling menghargai hasil keringat masing-masing dalam mengolah keuangan jika keduanya mandiri secara finansial.

Hal-hal di atas lah yang menjadi garis besar pertimbangan saya untuk menikah, tentunya tidak hanya diterapkan di satu pihak, ya. I also made sure that my used-to-be-boyfriend juga sudah lolos QC tiga aspek tersebut. Masing-masing dari kita memiliki considerations atau point of view sendiri tentang pernikahan. Yang pasti, saya ingin pasangan saya menikah dengan ‘the best version of mewho knows what to do with the marriage itself.  

Lalu apa tujuan menikah? Tujuan menikah will be posted soon on Table Talk session. See ya!

Comments